Oleh: Mokhammad Ridho I
Ahmad Tajudin, itulah nama lengkapnya. Salah seorang anggota Satpol PP yang gugur dalam peristiwa kerusuhan di Tanjung Priuk beberapa waktu lalu. Pria yang berencana akan mengakhiri masa lajangnya pada bulan oktober 2010 ini, siapa sangka ia lebih dulu mengakhiri hidupnya.
Kisah yang menyelimuti Tajudin pun cukup tragis. Seorang sahabat Tajudin bernama Ahmad menceritakan, sebenarnya Tajudin tidak ikhlas diberi tugas menggusur lahan makam keramat itu. Sebelum kejadian, korban SMS meminta maaf kepada teman-temannya bahwa dia akan menggusur bangunan keramat di Tanjung Priok yang setiap dua minggu sekali ia rutin untuk berziarah kesana. Selain itu, ia pun juga meminta maaf kepada semua umat muslim. “Mohon maaf karena ane hanya menjalankan tugas untuk membongkar Majelis Habib Hasan al Hadad Priok dan makamnya tidak akan dibongkar,” kata Ahmad membacakan SMS Tajudin. Siapa yang menyangka bila Tajudin harus tewas bertempur dengan sesama warganya sendiri. Satu pihak menjalankan tugas negara, satu pihak lain mempertahankan haknya.
Tuntutan pekerjaan, mungkin itu yang menggambarkan keadaan orang seperti Tajudin ini. Dengan sangat terpaksa menjalankan pekerjaan yang sama sekali tidak disukainya. Tapi apa daya, demi mendapatkan uang ratusan ribu rupiah sebulan, ia harus melakukannya. Walaupun sangat bertentangan dengan hati nuraninya. Sekalipun harus mengorbankan nyawanya.
Mungkin, kisah memilukan dari Tajudin tersebut hanya satu dari sekian juta orang yang menjadi korban karena tuntutan pekerjaan.
*****
Ketika saya berkunjung ke sebuah toko buku terkemuka di Depok, saya membaca sebuah buku yang ditulis oleh seorang Komisaris Jenderal bintang tiga. Yang namanya sangat populer belakangan ini dengan kutipannya, “setengah kebenaran lebih jahat dari kejahatan itu sendiri.”
Om Susno 2G (Duadji), begitu teman-teman saya menyapanya. Namanya saja sudah menjadi alasan mengapa institusinya yang dulu dipimpinnya kalah melawan KPK. ya jelas, KPK sudah memakai teknologi 3G sedangkan Bareskrim baru memakai 2G (hehe;). Om Susno saat ini begitu gencarnya menyerukan kebenaran, om Susno sangat berani melawan ketidakadlian dan kedzaliman yang terjadi di bekas institusinya, tetapi mengapa ia melakukan semua tindakan terpuji itu setelah ia dibebas tugaskan sebagai Kepala Bareskrim, dan sudah tidak lagi menjabat di institusi Polri? Kemudian mengapa ia tidak melakukannya selagi ia masih menjabat? Mungkin teman-teman disini sudah tahu akan jawabannya.
Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa di antara kalian mendapati kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya (kemungkaran itu) dengan tangannya, apabila ia tidak bisa, hendaklah ia mengubahnya dengan lisannya, apabila tidak bisa, hendaklah ia mengubah dengan hatinya, dan itulah selemah-lemah iman.” (Hadis sahih).
Yang pertama adalah dengan tangan. Hal ini jika seseorang mampu melakukannya, atau ini dikhususkan bagi orang-orang yang memiliki kekuasaan. Jika tidak mampu, atau meyakini seandainya ia merubah kemungkaran dengan tangan bakal mendatangkan kemungkaran yang lebih besar, maka ia berpindah dengan lisan, Kemudian, jika dengan lisan tetap tidak mampu, maka seseorang berjihad dengan hatinya, setelah itu setiap Muslim dan muslimah tidak diberi udzur (ampun) jika meninggalkan tingkatan terakhir ini, apapun alasannya.
Mungkin kebanyakan dari kita hanya bisa menggunakan hatinya, namun apakah sebegitu tidak berdayanya kita, bahkan untuk bisa mengatakan secara lisan saja kita tidak mampu.
Teman saya si X seorang sarjana hukum dari universitas ternama di depok, ia menjadi seorang advocate, tidak peduli mana yang benar dan mana yang salah. jika ada yang membayar, ia harus dibela. Walaupun harus melawan kebenaran dan mendukung kedzaliman. Begitu juga dengan senior saya yang sekarang sudah bekerja di sebuah agency iklan multinasional, yang saya tahu selagi mahasiswa, ia adalah seorang yang cukup agamis dan idealis. Namun dengan terpaksa ia harus mendukung seorang kafir untuk maju sebagai calon Bupati di suatu daerah di Jawa Timur. Sekalipun ia tahu dan hafal QS: Ali Imron, salah satunya ayat 28 yang sangat jelas mengatakan bahwa, “seorang mukmin diharamkan memilih seorang kafir sebagai pemimpin.”
contoh lainnya, bagaimana dengan para aktivis kita yang pada tahun’98 lalu, dengan bangganya menduduki gedung parlemen dan menjatuhkan rejim orba, mereka dengan lantang menyerukan keadilan dan melawan kedzaliman. Namun apa daya setelah lulus dan sekarang telah menjadi bagian dari parlemen yang sama-sama mendukung UU BHP. UU yang harus segera disahkan untuk kepentingan mereka semata.
Lalu bagaimana dengan para anggota dewan kita yang amat gila kekuasaan, yang senantiasa menjilat muka pemerintah. Keputusan suatu fraksi yang mendukung pemerintah harus wajib diikuti oleh kadernya. kasus century yang sudah jelas melanggar hukum dan ditolaknya hak menyatakan pendapat merupakan suatu kenyataan bahwa wakil rakyat kita disana tidak mampu berbicara, apalagi bertindak. Jika mereka menyerukan kebenaran, maka pekerjaanlah yang menjadi taruhannya.
Kisah-kisah diatas yang dialami Tajudin, Om Susno, para anggota dewan, dan teman-teman saya itupun memberikan kita beberapa contoh bagaimana suatu tuntutan pekerjaan harus kita jalankan walaupun sangat bertentangan dengan hati dan idealisme kita. Bahkan bertentangan dengan kebenaran sekalipun.
Itu semua yang akan kita hadapi, jika kita lulus nanti. ketika kita dibenturkan kepada kepentingan pribadi, kita sama sekali tidak berdaya dan tidak dapat menolaknya.
Bukan mereka yang salah jika memang seperti itu kenyataannya, coba kita tarik suatu masalah ini sampai ke sumbernya. Yang berhulu pada sebuah institusi pendidikan tinggi, yang bernama universitas atau biasa disebut kampus. Yang membentuk pemikiran dan karakter setiap mahasiswanya.
Jika kita telaah lebih dalam lagi, ternyata memang benar Universitas hanyalah sebuah mesin yang mencetak robot-robot pekerja, yang akan menghasilkan budak-budak kapitalisme. Ya, memang seperti itu adanya. sebagai bukti, kita melihat setiap institusi pendidikan tinggi gencar mengiklankan bahwa institusinya siap mencetak lulusan yang siap bekerja, atau kepastian langsung dapat kerja setelah lulus. Paradigma yang mengajarkan mereka untuk patuh dan tunduk kepada setan-setan imperialisme dan kapitalisme. Selain itu, mahasiswa sendiri pun kebanyakan sudah tidak peka lagi dengan kondisi sosial sekitarnya. Hal tersebut bisa dilihat dari berkurangnya minat mahasiswa untuk bergerak, berdiskusi, maupun sekedar berpikir kritis. Mereka hanya peduli dengan kuliah dan urusan pribadinya saja.
Terlebih lagi, saat ini pun, rejim penguasa sampai perangkat terendahnya di kampus yaitu rektor, dengan berbagai kebijakanya telah memaksa mahasiswa untuk tunduk pada ilmu picik imperialis. Yaitu ilmu-ilmu bisnis, ilmu uang, ilmu provokator, tanpa sama sekali memasukkan ilmu hati nurani di dalamnya. mencetak para calon pekerja dengan Mengajarkan Ilmu-ilmu setan seperti itulah yang diajarkan di semua kampus-kampus kita, di dalam institusi pendidikan tinggi yang diharapkan mencetak generasi penerus bangsa. Mahasiswa dipaksa untuk berpikir pragmatis dan alergi politik dengan berbagai petuah yang seolah-olah kampus wilayah yang netral dan tugas dari mahasiswa hanyalah belajar, Tidak lebih.
Bukan tidak mungkin kedepannya akan menjadi suatu sistem yang diterapkan di kampus, sistem yang nantinya akan membatasi ruang gerak mahasiswa dalam berorganisasi, beraktivitas sosial, atau bahkan berbicara.
Sebuah kenyataan pahit memang, peran mahasiswa sebagai intelektual muda hanya dituntut untuk belajar, membaca, menulis, dan meneliti. Memang pola pikir pragmatis tersebut sangat menguntungkan untuk kepentingan dirinya. Apalagi jika nanti mahasiswa tersebut sudah lulus, uang dan kedudukan adalah parameter yang harus segera dipenuhi.
Lalu, apa yang akan kita lakukan setelah lulus kuliah nanti? Jawabannya adalah mengkayakan diri kita dan mengkayakan keluarga kita. Tidak usah peduli dengan orang lain. Buat apa, tidak ada untungnya. Ya, memang itu realitanya.
Seperti adanya lingkaran setan, masalah ini tidak akan ada habisnya, setiap generasi pasti selalu ada. Sungguh nestapa dan ironi sekali Ketika suatu (tuntutan) pekerjaan dengan mudahnya dijadikan alasan untuk mengorbankan hati nurani, agama, bahkan jiwa kita korbankan dan berikan kepada para penguasa, pemangku jabatan, para borjuasi komperador, para tuan tanah, para politisi dan birokrat-birokrat berengsek yang senantiasa taat mencium kaki sang kapitalis. Tanpa kita sadari, kita akan patuh kepada yang menggaji kita, yang memberikan materi dunia yang tidak seberapa, yang memberikan kita kesenangan sesaat, yang memberikan kenikmatan duniawi yang amat sangat singkat. Kita akan melakukan apa saja untuknya. Namun, kita sama sekali tidak menyadari adanya kekekalan di akhirat. Naudzubillah..
Akan tetapi, masih ada setitik putih diantara gelap gulitanya hidup ini.
Sebagaimana sabda Rasulullah saw yang artinya, “Akan tetap ada segolongan dari umatku yang tampil (membela kebenaran) hingga datang keputusan Allah kepada mereka, sedang mereka dalam keadaan unggul.” (HR Bukhari).
Ya, itulah yang membuat saya tetap optimis. itulah yang membuat kami yakin, bahwa di dalam dunia yang penuh dengan aroma kebusukan ini, terdapat secuil wangi kasturi yang tidak akan hilang. Dan tidak lain wangi tersebut adalah kita, yang termasuk ke dalam golongan kecil tersebut.
Ya, semoga..
Filed under: Bidang Agitasi dan Propaganda, Tulisan