Analisa Krisis Global

Gejolak Krisis Over Produksi Dan Financial Sebagai Perwujudan Anarkhisme Produksi Imperialisme

Krisis adalah Penyakit bawaan dari sistem ekonomi kapitalisme yang tidak akan pernah ada akhir bahkan semakin kronis, liberalisme ekonomi dengan pasar bebas yang di gagas kapitalisme telah membawa kesejahteraan umat manusia sebagai bagian dagangan bagi produk mereka, lebih buruk dari itu kapitalisme yang telah bertransformasi kebentuk paling kejam yaitu Imperialisme yang mengatakan penjarahan dan perampokan dengan bahasa investasi dan pembangunan negara terbelakang, yang menggunakan perang untuk perdagangan senjata dengan bahasa melawan musuh kemanusiaan dan menghancurkan terrorisme. Imperialisme adalah Perang !.

Jika kita lihat berbagai berita yang ada baik di media cetak maupun elektronik, yang ada saat ini selain soal Obama vs Mcain, maka soal kesibukan berbagai negara yang begitu gugup melakukan berbagai tindakan untuk mengatasi krisis keuangan yang menerpa semua negara. Berbagai paket kebijakan telah di keluarkan, mulai dari pemangkasan suku bunga, penutupan pasar saham sampai soal bailout atau kalau di Indonesia paket kebijakan buy back sampai surat keputusan bersama (SKB) 4 manteri, yang intinya hanya satu yaitu bagaimana membebaskan diri dari cengkeraman krisis.

Saat ini dunia memang sedang sibuk menghadapi berbagai soal, mulai dari krisis finansial, energy, pangan, sampai soal perubahan iklim. Awalnya yang paling disalahkan atas krisis ini terutama untuk krisis finansial dan energy adalah ulah para spekulan di pasar saham yang memainkan berbagai isu untuk keuntungan sendiri, tetapi belakangan banyak pihak yang sadar bahwa penyebab krisis yang utama bukanlah ulah para spekulan, tetapi yang lebih dasar lagi adalah akibat sistem ekonomi pasar milik kapitalisme. Persaingan bebas telah menerpa batas-batas persaingan yang sehat, mengakumulasi alat produksi dan hasil produksi di tangan segelintir orang, hal ini sama saja membiarkan hak-hak rakyat, dan segala kebutuhan untuk rakyat seluruh dunia di serahkan kepada segelintir orang. lalu bagaimana krisis yang diawali dengan krisis kredit perumahan untuk rakyat (Subprime mortage) di AS bisa begitu cepat menjalar ke berbagai belahan dunia dan membangkrutkan berbagai perusahaan keuangan, bank dan perusahaan sekuritas hingga memaksa pemerintahan berbagai negara untuk menguras cadangan devisanya untuk menyelamatkan mereka.

Keserakahan Imperialisme adalah Sebab Utama Krisis

Seperti yang telah sedikit diulas, krisis yang meledak dan menjalar begitu cepat ini diawali oleh kredit macet perumahan (krisis subprime mortgage) untuk rakyat di AS, tetapi apakah itu sebab pokok bagi krisis saat ini. Tentu hal ini harus kita periksa lebih dalam, bagaimana kasus kredit properti dalam hal ini soal perumahan yang macet di AS dapat menjalar, bahkan dampaknya terasa sampai ke Indonesia, apa hubungannya krisis ini dengan kejatuhan saham hingga mendorong penutupan sementara bursa saham di berbagai negara serta kepanikan pemerintah di banyak negara.

Kredit macet properti perumahan di AS terjadi saat rakyat di AS begitu mudah mendapatkan pinjaman dari bank untuk pembelian rumah, dengan jaminan properti itu sendiri sebagai jaminan, kalau di Indonesia di sebut dengan kredit pemilikan rumah (KPR), yang terjadi sejak akhir tahun 2000. Pada periode tersebut di AS sendiri sedang terjadi periode penurunan tingkat suku bunga di AS, misalnya maret 2000 adalah periode runtuhnya saham-saham teknologi ; burst of internet bubble. Tetapi di satu sisi proprosi aset mortgage di bank komersial terus meningkat, sehingga mendorong terjadinya tingkat pembangunan perumahan di AS.

Untuk mengurangi resiko terjadinya resesi ekonomi maka bank sentral (Federal Reserve/ the fed) di AS terpaksa menurunkan tingkat suku bunga secara agresif. Dengan suku bunga dari bank sentral (bank fed) maka tingkat suku bunga mortgage juga ikut rendah yang kemudian mendorong terjadinya pembangunan perumahan secara besar-besaran. Dengan suku bunga yang begitu rendah sementara harga rumah terus merangkak naik, pemberi mortgage seolah melupakan resiko gagal bayar dari para peminjam. Dengan ketatnya persaingan, maka strategi pemasaranpun dilakukan, salah satunya adalah dengan bunga yang dibayar begitu rendah selama dua tahun, tetapi setelah itu bunganya akan dinaikan secara signifikan, jadi bunga baru akan di- reset setelah dua tahun. Dengan harga rumah yang terus merangkak naik, sementara bunga baru akan direset setelah dua tahun banyak orang yang mengambil kredit dengan harapan sebelum tahun kedua rumah bisa dijual untuk membayar sisa mortgage.

Tetapi yang harus dilihat subprime mortgage adalah kredit berisiko tinggi, karena kebanyakan yang mengambil kredit mortgage adalah kelas pekerja rendahan, termasuk buruh karena tidak adanya jaminan soal pengembalian kredit serta kapabilitas yang memadai untuk membayar kredit. Sehingga yang terjadi kemudian adalah terjadinya gagal bayar atau yang kita sebut kredit macet, karena paling tidak ada dua hal yang terjadi yaitu, terjadinya tingkat kenaikan suku bunga yang secara otomatis mendorong kenaikan suku bunga mortgage yang merupakan investasi tinggi tanpa jaminan keamanan keuangan yang memadai, yang kedua adalah anjoknya harga rumah, turunnya harga rumah telah membuat para pengambil kredit tidak bisa menjual rumahnya untuk melunasi hutang atau pun untuk mengambil hutang baru, hal ini sebenarnya mulai terlihat periode sekitar tahun 2004.

Apalagi sejak tahun 2004, bank Fed telah menaikan target tingkat suku bunga : tightening credit atau pengetatan/ pengencangan kredit, secara perlahan tingkat bunga naik hingga mencapai 5.25 %, ketika terjadi kenaikan target tingkat suku bunga, maka secara otomatis bunga untuk hutang pun ikut naik. Sehingga mulai tahun 2004 tercatat bahwa tingkat kegagalan kredit subprime mortgage mulai naik dengan tajam. Puncaknya terjadi tahun 2007 ketika pengambil kredit sudah sama sekali tidak mampu mengembalikan pinjamannya akibat suku bunga atas mortgage yang melambung tinggi, sehingga yang terjadi adalah ketika mereka harus terhimpit oleh dua hal sekaligus, yang pertama terhimpit oleh hutang bank yang bunganya terus naik, yang kedua adalah angsuran pembayaran rumah yang akibat bunga naik maka jumlah yang harus di bayar menjadi berkali lipat, akibatnya adalah mudah di tebak terjadi kemacetan total pada kredit perumahan rakyat. Kemudian krisis subprime mortgage efeknya dengan cepat menjalar keberbagai sektor, memakan korban berbagai lembaga keuangan dan bank-bank investasi yang kemudian merambat cepat bak wabah keseluruh dunia dalam berbagai sektor.

Dimulai Maret 2008 ketika bank investasi, Bear Stearns yang dibeli JP Morgan Chase dengan nilai US$ 263 Juta, akuisisi ini di motori Bank Fed AS. Kasus ini kemudian berlanjut pada tanggal 7 September ketika perusahaan pembiayaan rumah terbesar di AS Freddie Mac dan Fannie Mae diambil alih departemen keuangan AS sekaligus menjamin utang masing-masing perusahaan sebesar US$ 100 Miliar. Tanggal 15 september Lehman Brothers dinyatakan bangkrut, Merrill Lynch menyatakan diri diakuisisi oleh bank of America dengan nilai sebesar US$ 50 Miliar, masih diwaktu yang sama AIG mengalami kemerosotan saham hingga 60,8%. Selain itu Bank Fed juga menyuntikan dana kepasar sebesar US$ 70 Milliar. Sehari berikutnya bank Fed dipaksa menyuntikan dana sebesar US$ 50 miliar kepasar, selain itu pemerintah AS juga harus menyelamatkan AIG dengan imbalan 79,9% untuk menyuntikan dana sebesar US$ 85 Miliar untuk perusahaan asuransi raksasa tersebut. Kemudian 26 September 2008 bank terbesar di AS yaitu Washington Mutual (WaMu) kolaps, dan sebagian sahamnya kemudian di beli JP Morgan Chase dengan nilai US$ 1,9 Miliar.

Krisis ini kemudian mendorong pemerintah AS mengeluarkan UU Penyelamatan Ekonomi Darurat melalui program bailout dengan dana mencapai US$ 700 miliar, Rekor “semacam BLBI” terbesar dalam sejarah, selain itu pemerintah AS juga melakukan pengurangan pajak dan menaikan jaminan simpanan bank dari US$ 100.000 menjadi US$ 450.000. keadaan ini kemudian menjalar dengan cepat ke penjuru dunia, Bank-Bank di Eropa bertumbangan UBS AG bank inestasi di Swis menderita kerugian US$ 13,7 Miliar, HSBC Inggris US$ 3,4 miliar bahkan Citigroup di AS mendapatkan kerugian mencapai US$ 24,1 Miliar, penurunan tingakat suku bunga berlangsung sangat cepat, hal yang sama terjadi di Asia, dimulai dengan tumbangnya Yamato Bank di jepang.

“Korban-korban” Krisis Global 2008

Bank

Tanggal

Status

Fannie Mae

7 September 2008

Dinasionalisasi

Freddie Mac

7 september 2008

Dinasionalisasi

Lehman Bros

15 September 2008

Kolaps

Merril Lynch

15 September 2008

Diambil alih

AIG

16 September 2008

Seminasionalisasi

HBOS

17 September 2008

Diambil Alih

WaMu

25 September 2008

Kolaps dan dijual

Fortis

28 September 2008

Dinasionalisasi

Bradford & Bingley

29 September 2008

Dinasionalisasi

Wachovia

29 September 2008

Diambil alih

Glitnir

29 September 2008

Dinasionalisasi

Hypo Real Estate

6 Oktober 2008

Paket Penyelamatan

RBS

13 Oktober 2008

Seminasionalisasi

Lloyd TSB

13 Oktober 2008

Seminasionalisasi

Sumber : BBC dan Kompas, 31 Oktober 2008.

Hal ini yang kemudian melahirkan berbagai tindakan oleh pemerintah di berbagai negara untuk mengatasi krisis yang semakin kronis, di bawah ini tertera beberapa paket kebijakan yang di keluarkan beberapa negara industri maju (berdasarkan Kompas,26 Oktober 2008) :

1. Amerika Serikat; US$ 700 Miliar. Paket ini termasuk didalamnya dana talangan untuk institusi keuangan yang mencapai US$ 250 miliar, jaminan deposito US$ 250 ribu, dan dana likuiditas mencapai US$ 900 miliar

2. Inggris; US$ 691. Inggris dapat menyuntikan dana hingga US$ 64 miliar untuk tiga bank terbesar. Akan menjamin 439 miliar dollar AS untuk menopang proses peminjaman antar bank. Jaminan deposito mencapai US$ 87.857 dan dana likuiditas mencapai US$ 351 miliar melalui cara lelang.

3. Jerman; US$ 680 miliar. Menyuntikan dana sampai 109.79 miliar untuk rekapitalisasi. Setelah itu dana sebesar US$ 27.4 miliar akan di sediakan untuk bank-bank yang mengambil jaminan pinjaman. Jaminan deposito tanpa batas dan dana cadangan likuiditas mencapai US$ 548.9 miliar

4. Irlandia; US$ 544 miliar. Pemerintah dapat mengambil alih kepemilikan 6 bank yang terproteksi. Jaminan deposito tanpa batas dan enam bank di jamin.

5. Perancis; US$ 492 miliar. Dapat menyuntikan dana sampai US$ 54.89 miliar untuk rekapitalisasi. Pemerintah dapat mengambil kepemilikan saham. Jaminan deposito mencapai US$ 95.179 dan dana cadangan likuiditas mencapai US$ 439 miliar.

6. Rusia; US$ 200 miliar. Rusia berjanji meminjamkan US$ 35 miliar kepada perbankan lokal. Perusahaan swasta dapat meminjam mulai US$ 100 juta sampai US$ 2.5 miliar. Deposito dijamin penuh.

7. Asia; US$ 80 miliar.

Akibat krisis ini, bisa di tebak yang kongkret terkena imbasnya adalah sektor perburuhan, hampir setiap hari media massa menyiarkan tentang pengumuman PHK yang di lakukan oleh perusahaan-perusahaan perumahan di AS. Countrywide Financial Corporation, pemberi kredit hipotik perumahan terbesar di AS, merumahkan 12 ribu buruhnya. Keputusan yang sama juga diambil oleh Citigroup incorporated, Merril Lynch,Lehman Brothers Holding incorporated, First National bank holding co, HSBC, Home Lender Holding Co, Scottdale, dan IndyMac Bancorp Inc. (Majalah Tempo, 3 Februari 2008). Bahkan analisis dari Third World Network, Kanag Raja memperkirakan korban PHK akibat krisis ini mencapai 5 juta orang, sementara menurut ILO, akibat krisis sekitar 20 juta buruh akan kehilangan pekerjaan.

Bahkan Indonesia yang dikatakan rejim SBY-Kalla tidak perlu panik terhadap krisis karena fundamen negara yang kuat, harus melakukan langkah-langkah yang relatif sama dengan negara-negara lain, mulai dari mengkoreksi APBN untuk tahun 2009, penutupan sementara (Suspend) BEI, sampai mengeluarkan program Buy Back terhadap aset-aset BUMN di pasar saham dan penaikan jaminan tabungan dari awalnya 100 juta menjadi Rp 2 miliar, yang terbaru adalah penerbitan SKB 4 menteri. Artinya disini kita memahami bahwa soal krisis jika itu terjadi di negara Induk Imperialime yaitu AS pasti akan berdampak kenegara lainnya, dan yang paling menderita akibat itu adalah negara-negara tergantung dan setengah jajahan semacam Indonesia.

Karena disinilah kita memaknai bahwa Imperialisme yang akan selalu menjarah, dan merampok negara-negara lain dengan berbagai cara bahkan dengan kedok bantuan, utang ataupun investasi, dan peranan dari capital finan lewat lembaga-lembaga keuangan ataupun bank akan sangat penting, karena dari sanalah capital akan sangat mudah dan cepat untuk dipindahkan kemanapun sesuka hati. Tetapi walaupun begitu yang paling menentukan atas perkembangan ekonomi dari imperialisme adalah produksinya, yang akan dimanifestasikan lewat pasar yang harus dikuasai, dan terus di perluas. Karena finansial dari Imperialisme akan berkembang atau berhenti, bahkan menjadi krisis ditentukan oleh seberapa besar penguasaan atas pasar atas hasil produksi Imperialisme .

Pasca keruntuhan pasar bebas diawal abad 19, ditandai dengan runtuhnya perusahan-perusahaan kapitalis kecil akibat dimakan oleh kapitalis-kapitalis besar dengan berbagai cara, baik merger, akuisisi atau akibat kalah saing dan kemudian bangkrut, telah menandai awal dari perkembangan periode kapitalis monopoli, tidak heran kita saat ini banyak menemukan perusahaan-perusahaan raksasa yang seperti perusahaan induk (holding company) semacam unilever, Mandom, atau MNC lainnya. Karena dalam masa kapitalis monopoli perusahaan tidak lagi hanya akan memproduksi satu jenis barang, hal ini dilakukan untuk tetap menjaga keuntungan dan demi menjamin terus mengalirnya laba super yang mereka inginkan. Dominasi kapitalis monopoli tentu punya potensi untuk menentukan seluruh perekonomian, karena terjadinya konsentrasi atas sebagian besar kapital industri dan produksi ditangan segelintir perusahaan besar atau segelintir kapitalis. Hingga abad 20 imperialisme sebagai tahap tertinggi kapitalisme telah mampu mendominasi secara politik dan ekonomi masyarakat di negara-negara kapitalis besar, sehingga yang bisa kita lihat saat ini adalah dominasi dari kapital monopoli negara. Akibatnya mereka akan mampu secara penuh mengendalikan sumber-sumber bahan mentah, produksi, harga dan pasar, teknologi, keterampilan/kemampuan produksi dan pembagian keuntungan.

Dalam pemusatan capital dalam segelintir kapitalis, atau yang lazim di sebut oligarhi finance, aspek yang cukup penting untuk penetrasi capital dalam rangka pengembangan dan penguasaan atas pasar bagi produk dari kapitalis yang akan selalu mengalami over produksi, peran penting ini akan di lakukan lewat lembaga-lembaga keuangan, semacam perusahaan investasi, asuransi dan juga bank. Bank dalam imperialisme mendapatkan keuntungan bukan hanya dari laba bunga pinjaman, namun laba tersebut bahkan digunakan untuk investasi dengan menanamkan modal pada kegiatan produksi. Bahkan dalam beberapa kasus bahkan seorang pemilik bank juga menjadi kapitalis produksi atau sebaliknya, karena ini yang akan memudahkan mereka untuk menanamkan kapital. Temasek misalnya selain memiliki bank Danamon, Temasek juga melakukan investasi di telekomunikasi dengan menguasai Indosat tbk, selain itu melalui anak perusahaannya Falaron Finance, mereka memiliki Bank BCA. Hal yang sama juga di lakukan oleh group Lippo selain memiliki bank seperti Lippo bank, mereka juga bergerak di bidang usaha perumahan dan makanan.

Dengan bank yang pusat distribusi kapital uang ke berbagai negeri atau bahkan di gunakan sebagai alat produksi. Denyut nadi ekonomi masyarakat tergantung pada bank-bank besar lewat praktek peribaannya. Paratisisme dari kapitalis monopoli dilakukan melalui spekulasi karena pada kenyataan nya bank juga banyak kegiatan aktif dalam pasar modal, tentu tidak lain yang digunakan adalah dana dari para nasabahnya, perjanjian penanaman modal tanpa melibatkan diri dalam praktek produksi. Bank akan menerima super profit dari “pajak” yang dibayarkan dari kapitalis monopoli untuk pembelian dari berbagai produk atau bunga pinjaman. Ini bisa didaptkan dari shares, comission, bonds dalam produksi dan penjualan.

Sederhananya peranan dari capital finance akan sangat penting bagi Imperialisme, karena lewat intitusi seperti bank, perusahaan investasi, dan perusahaan sekuritas, mereka akan bisa memutarkan capital mereka dengan cepat. Eksport capital pun dilakukan keberbagai negara, satu sisi ini adalah digunakan untuk memutarkan modal mereka dengan mengekspansi pasar, di sisi lain ini adalah salah satu usaha untuk menguasai pasar di berbagai negara. Apalagi kita tahu bahwa negara-negara tergantung dan setengah jajahan industri dalam negerinya akan sangat tergantung pada bantuan financial dari asing, bahkan hakekatnya perusahaan yang ada dalam negeri pun milik dari para Imperialis. Sudah jadi rahasia umum bahwa, jika Amerika melakukan perjanjian bilateral atau multilateral akan selalu diikuti oleh perusahaan MNCnya.

Hakekatnya dalam Imperialisme, pasar haruslah selalu tersedia, karena inilah yang akan menjadi jaminan dari produk-produk dari Imperialisme, karena karakter industri imperialis adalah industri yang anarkhis, dia tidak pernah tahu sebenarnya berapa kebutuhan dari rakyat, bahkan imperialis tidak tahu berapa besar tingkat kemampuan daya beli rakyat. Sehingga kita akan sering melihat produk dari imperialisme terutama teknologi tinggi, yang harganya akan terus menurun dibanding pertama kali keluar, ini bukan kebaikan imperialis agar rakyat bisa memilki produk tersebut, tetapi semata-mata akibat overproduksi barang teknologi tinggi, sebagai akibat industri yang berlangsung anarkis dan mengerikan. Bahkan Imperialispun akan menciptakan perang, ketegangan antar negara atau apapun yang akan mampu menciptakan pasar senjata bagi industri persenjataan negara imperialis.

Hukum bagi industri dan pasar yang anarkhis pada imperialis adalah pasar akan selalu menciut, dan tidak akan pernah cukup bagi mereka. Ini sudah dibuktikan pada pertengahan tahun 2000 industri teknologi yang mengalami overproduksi, ini dibuktikan dengan anjloknya saham teknologi yang dikenal dengan ; burst of internet bubble, yang kemudian memaksa perusahaan jaringan internet raksasa yahoo coorp, merumahkan 6000 buruhnya. Atau pun industry peralatan perang dan persenjataan yang memaksa AS terus mempertahankan perang irak atau afganistan walaupun dengan keadaan moral yang rendah dan menguras anggaran pemerintah AS, tetapi sekali lagi dominasi kapitalis monopoli sedemikian besar hingga mampu mengendalikan negara AS. Terbaru adalah overproduksi properti, perumahan dan bahan-bahan pembuatan rumah memaksa mereka memberikan kredit beresiko (Subprime) yang memang kenyataannya akhirnya macet.

Dalam kasus ini bank dan perusahaan investasi telah mengeluarkan dana yang begitu besar untuk mensupport investasi properti, sehingga ketika perusahaan perumahan terjebak kredit macet maka bank-bank besar dan perusahaan investasi pun mengalami kerugian miliaran dollar. Yang harus kita tahu bahwa dalam era oligarki finance inilah kenapa akhirnya akibat krisis di AS maka semuanya ikut terkena, karena antara capital finance dan capital industri dalam imperialisme sudah terjadi “perkawinan”. Sehingga dapat dipastikan saat terjadi kemacetan/krisis finansial maka industri pun akan ikut-ikutan krisis. Karena krisis ini terjadi di induk Imperialisme, maka negara-negara yang tergantung atas “belas kasihan” AS pun akan goncang, karena pastinya AS akan lebih mementingkan menyelamatkan industrinya di dalam negeri, bahkan kalau perlu menarik modal dari negara lain (capital flight) yang tentu akibatnya akan merontokan ekonomi di negara tersebut.

Rejim SBY–Kalla, Menghadapi Krisis adalah Menyelamatkan Borjuasi Komprador dan Imperialisme.

Di Indonesia serangkaian kebijakan juga di keluarkan oleh rejim SBY-Kalla untuk meredam kepanikan akibat krisis global. Setelah awalnya melakukan penutupan sementara BEI pada awal oktober 2008, pemerintah juga segera menyiapkan program buy back, yang awalnya disiapkan dana lebih dari Rp 4 triliun, pemerintah juga menaikan jaminan tabungan dari Rp 100 juta menjadi Rp 2 miliar, yang terakhir rejim SBY-Kalla juga mengeluarkan SKB 4 menteri (menteri tenaga kerja dan transmigrasi, dalam negeri, perindustrian dan menteri perdagangan) No16 tahun 2008 tentang pemeliharaan momentum pertumbuhan ekonomi nasional dalam mengantisipasi perkembangan perekonomian global. tetapi apakah ini akan mampu secara kongkret menyelamatkan ekonomi Indonesia, yang harus dipahami soal krisis, Indonesia sebagai negara setengah jajahan adalah negara yang akan selalu mengalami krisis, dan saat negara induknya yaitu imperialis AS mengalami krisis maka bisa dipastikan bahwa krisis yang dialami oleh Indonesia dipastikan akan lebih hebat, dan yang akan selalu dikorbankan adalah rakyat, terutama dari kaum tani dan kelas buruh, walaupun kelas dan golongan sosial lain pun akan merasakan juga akibat penindasan Imperialisme yang dijalankan oleh borjuasi komprador dan kapitalis birokrat.

Program buy back, adalah program yang dikeluarkan oleh pemerintah dengan tujuan untuk melakukan pembelian kembali saham-saham aset negara, ini bertujuan untuk menyehatkan kembali keuangan dari BUMN yang sahamnya nilainya terus merosot, bedanya antara buy back dengan bailout adalah jika buyback memberikan bantuan dengan cara membeli kembali saham-saham BUMN dan perusahaan-perusahaan lainnya yang dianggap harus ditolong dan mekanismenya lewat bursa saham, sedangkan bailout adalah pemberian bantuan langsung kepada pemilik atau perusahaan yang terlilit masalah finansial, program bailout di indonesia biasa di kenal dengan program BLBI yang terkenal dan menghebohkan karena sampai sekarang kasusnya belum selesai akibat korupsi dari pejabat perbankan Indonesia dan para pemilik bank yang terkena bantuan BLBI.

Harus di ketahui bahwa dana buyback sebagian besar adalah dana milik masyarakat yang di himpun lewat berbagai sumber, mulai dari pajak, dana BUMN, dana BLBI dan APBN. Buy back hakekatnya hanyalah menyelamatkan Imperialisme dan memperpanjang nafas para borjuasi komprador, karena buy back nantinya akan membeli kembali saham-saham kepada perusahaan imperialis yang memegang gadai saham perusahan-perusahaan indonesia, ingat kasus PT Bumi Resources Tbk milik PT Bakrie & Brothers Tbk yang sempat di suspen karena harganya menurun dratstis, saat ini saham bumi resources dengan dua anak perusahaannya yaitu Arutmin dan Kaltim prima coal (KPC) sebanyak 5.017 sedang di gadaikan ke lembaga keuangan asing dan domestik yang terbesar yaitu Oddickson finance, JP Morgan Chase,ICICI, Rekapital Securities, dan PNM Investement Management. Ini artinya negara yang yang harus membayar, sementara Bakrie group, sebagai komprador akan menikmati hasilnya, karena pasca pembayaran Repo (repurchase agreement) atau gadai, sebanyak 35 % saham bumi resources rencananya akan di jual kepada Northstar Pasific Ltd, yang didukung perusahaan private equity terbesar didunia dengan cadangan dana mencapai US$ 27-28 miliar, yaitu Texas Pasific Group (TPG). Tentu dari ini saja kita akan melihat bahwa rejim lebih memilih menyelamatkan komprador dan imperialis dari pada menggunakan keuangan negara untuk rakyat, karena akibat krisis ini dipastikan bahwa APBN 2009 akan berkurang, terutama untuk sektor publik, untuk pendidikan misalnya anggaran awalnya sebesar Rp 224 triliun, sudah berkurang sebesar Rp 16,75 Triliun.

Dalam realitas sebenarnya yang nanti akan terpukul tentu adalah rakyat Indonesia, untuk kelas buruh misalnya terbitnya SKB 4 menteri, hakekatnya justru membawa buruh semakin jauh kedalam penghisapan, menteri tenaga kerja dan transmigrasi mengatakan bahwa SKB adalah tindakan untuk mencegah PHK dengan melakukan penyesuain upah khususnya untuk industri padat karya. Artinya dengan dalih daripada terjadi PHK lebih baik ada penyesuaian upah, dan buruh dipaksa untuk menerimanya. Sedangkan dalam pekerjaan buruh justru akan semakin ditindas dengan intensitas pekerjaan yang semakin tinggi, kemudian perusahaan tentu akan semakin suka menerapkan sistem kerja kontrak dan outsourching karena dengan begitu perusahaan punya alasan untuk tidak memberikan tunjangan kesejahteraan bagi buruh. Selain itu pada kenyataannya PHK bagi buruh pun tetap saja terjadi, pada bulan september 2008 saja diperkirakan 3000 buruh dari industri tekstil yang di PHK, dan angka itu sampai sekarang terus bertambah.

Sementara untuk sektor pertanian, kaum tani tidak akan menikmati keuntungan apapun, walaupun produk dari pertanianlah yang paling bertahan di krisis ini, tetapi ini juga tidak semua merasakannya. Petani klapasawit harus merasakan dampak dari melemahnya rupiah atas dollar, harga klapasawit yang tadinya Rp 2000 pertandan, harus turun sampai Rp 200 pertandan. Klapasawit yang dijual dengan standar rupaih atas dollar tentu tidak akan ada harganya, hingga tidak heran ekport bahan mentah dari indonesia semacam kalpasawit dan karet harus mengalami defisit, di bandingkan import yang harus kita bayar dengan dollar, maka harga komoditas importpun akan naik, dalam sektor pertanian kita akan melihat sarana produksi semacam pupuk yang harganya akan naik. Selain itu petani juga harus berhadapan dengan tingkat inflasi di pedesaan yang lebih tinggi.

Apalagi diperkirakan pada tahun 2009 dunia akan mengalami kesulitan memperoleh likuiditas, terutama dollar, sebagai akibat AS menyedot sebagian besar dollar untuk memulihkan ekonominya. Sebagai akibatnya indonesia akan kesulitan menjual obligasinya, karena semua pihak menahan dollar Asnya. Sehingga jika ini terjadi, rencana pemerintah untuk mengambil pinjaman lagi tentu adalah rencana yang konyol karena dalam keadaan ini tentu suku bunga pinjaman akan naik dengan tinggi, jaminan pinjaman juga akan sangat tinggi, apalagi indonesia sudah tidak mendapat pinjaman lunak lagi.

Pada sektor pemuda mahasiswa, krisis ini juga akan sangat terasa. Untuk mahasiswa yang paling dirasakan adalah naiknya harga-harga, mulai dari kost,makan,transportasi, buku dan berbagai peralatan kuliah lainnya, selain itu kampus juga pasti akan menaikan biaya kuliah, dengan alasan karena krisis biaya operasional juga akan naik. Untuk kampus-kampus besar yang bekerjasama dengan lembaga bantuan luar negeri dengan pinjaman, semacam ADB dengan UIN dan UPI, karena ini adalah pinjaman dan dalam bentuk dollar maka pengembaliannya juga akan berlipat akibat melemahnya rupiah terhadap dollar dan sekali lagi yang pasti akan di keruk adalah mahasiswa. Jika sudah begini tentu keadaan kampus akan jauh lebih represif, hak-hak demokratis mahasiswa akan dipasung, disamping semakin sempitnya akses pendidikan bagi rakyat, sementara itu jaminan atas lapangan pekerjaan yang layak juga tidak akan ada. Jika sudah seperti itu masa depan pemuda indonesia hanyalah menjadi barisan rapi untuk buruh-buruh murah yang setiap saat siap di buang, dan terkungkung dalam sistem kerja kontrak dan outsourching.

Dalam keadaan seperti ini tentu potensi dari rakyat untuk protes pasti akan meningkat, dan seperti kita tahu bahwa mayoritas perlawanan rakyat saat ini masih di dominasi atas gerakan spontanitas. Gerakan spontanitas tentu akan mudah dipatahkan, selain gerakan spontanitas sangat berpotensi untuk ditunggangi dan di setir pihak-pihak yang oportunis mencari keuntungan semata. Dalam keadaan seperti ini sangat penting bagi pemuda mahasiswa untuk tampil aktif mengambarkan persoalan-persoalan rakyat dan berjuang bersamanya, karena bagaimana pun yang paling memiliki peran menentukan adalah gerakan rakyat, yang dilandasi persatuan buruh dan tani, bukan gerakan pemuda mahasiswa. Pemuda mahasiswa adalah gerakan penyokong dan tugasnya adalah bergabung dengan gerakan rakyat. Yang tidak kalah pentingnya adalah bagaimana kita memandang bahwa penyebab krisis yang telah membuat rakyat Indonesia terhisap dan tertindas adalah akibat ulah dari Imperialisme, yang mendominasi kebijakan negara lewat rejim komprador SBY-Kalla yang berkolaborasi dengan tuan tanah besar dan kapitalisme birokrat.


Diterbitkan oleh Organ Propaganda FMN bekerjasama dengan bid. Agitasi dan Propaganda Kastrat FISIP UI

One Response

  1. jika anda lelah membaca dilayar komputer, bisa dikopi teks ini atau diprint,, lalu jgn lupa sebarkan ke yang lain.. karena ini merupakan Propaganda penting yg wajib disebar.. Hak cipta tidak dilindungi, siapapun boleh membacanya..

    NB: hati2, jangan membaca sambil mengemudikan kendaraan bermotor ;)

Leave a Reply